Rabu, Maret 18, 2009

mengelola koleksi perpustakaan

PENGADAAN DAN INVENTARISASI BAHAN PUSTAKA

PENGADAAN KOLEKSI

Pengertian

Yang dimaksud dengan pengadaan bahan pustaka atau koleksi di perpustakaan sekolah ini meliputi kegiatan pemilihan koleksi dan cara atau teknik pengadaanya. Dasar dari pengadaan koleksi untuk perpustakaan sekolah adalah dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan segenap anggota masyarakat sekolah yang bersangkutan, terutama para murid dan guru.

Pemilihan koleksi yaitu kegiatan mengidentikasi koleksi yang akan ditambahkan kepada koleksi yang sudah ada di perpustakaan. Sedangkan teknik dan cara pengadaannya merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengadakan koleksi yang dibutuhkan oleh perpustakaan sekolah. Baik berupa hasil pemilihan maupun bukan, yakni berupa kiriman paket dari pemerintah.

Pemilihan koleksi

Dalam pemilihan koleksi ada beberapa langkah antara lain, mengidentifikasi koleksi apa yang akan dipilih untuk dijadikan koleksi perpustakaan sekolah, catat data koleksi yang dipilih misalnya judulnya, pengarangnya, penerbitnya, keunggula-keunggulannya dan kelemahannya dan juga harganya, pemilihan koleksi bisa dilakukan langsung oleh petugas maupun para pustakawan, namun alangkah lebih baik dengan mempertimbangkan terlebih dahulu dengan aspek kebutuhan anak didik maupun guru, dalam hal ini pustakawan atau guru bisa meminta bantuan pertimbagan kebutuhan koleksi tersebut.. Secara umum prinsip pemilihan koleksi untuk perpustakaan sekolah antara lain:

a. Disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum yang berlaku di sekolah

b. Disesuaikan dengan sistem pendidikan secara nasional

c. Disesuaikan dengan keberadaan / tempat perpustakaan sekolah

d. Disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa usia sekolah

e. Disesuaikan dengan sistem perpustakaan nasional

f. Disesuaikan dengan kemampuan dana yang tersedian

Teknik / Cara Pengadaan Koleksi

Pengadaan keleksi perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar pembelian atau pemesanan, penerimaan paket dari pemerintah, tetapi mencakup hal-hal yang perlu dilakukan setelah kita menentukan pilihan buku, diantaranya mencakup:

a. Perolehan bahan pustaka (buku) baik melalui pembelian, hadiah atau pertukaran

b. Pembayaran beserta tanda terimanya

c. Memelihara catatan yang berkaitan dengan pengadaan

Pengadaan bahan pustaka di perpustakaan dapat diperoleh melalui: pembelian, pertukaran dan penerimaan hadiah

1. Perolehan melalui pembelian

Sebelum melakukan pembelian bahan pustaka terlebih dahulu diadakan seleksi, hal ini dilakukan dalam rangka memilih bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengumpulkan katalog penerbit

b. Memilih judul yang sesuai

c. Membuat slip judul buku

d. Menyusun slip sesuai dengan subjek tertentu sebagai desiderata

e. Membuat daftar pesanan

Selain langkah tersebut diatas, dalam menyeleksi data yang ada perlu menggunakan alat bantu seleksi antara lain: Indeks majalah, tinjauan buku, daftar subjek tertentu, alat bantu identifikasi dan verifikasi yang antara lain berupa katalog penerbit dan bibliografi. Oleh karena itu pengelola perpustakaan perlu memahami beberapa pedoman sebagai berikut:

a. Mengetahui berbagai bahan pustaka yang ada di pasaran

b. Memahami tujuan dan fungsi perpustakaan

c. Mengenal kebutuhan masyarakat yang dilayani

d. Mengenal prinsip-prinsip seleksi

e. Mengenal dan mampu menggunakan alat-alat bantu seleksi

f. Memahami berbagai kendala yang ada

2. Pemesanan melalui toko buku

Untuk mendapatkan buku dengan cara membeli, pihak perpustakaan bisa langsung datang ke toko buku atau memesan berdasarkan katalog yang diterbitkan oleh penerbit maupun toko buku, selain dapat pula lewat distributor ataupun agen yang bersangkutan.

Pembelian buku secara langsung di toko buku dapat dilakukan oleh perpustakaan yang mempunyai dana relatif kecil. Tetapi bilamana kebutuhan buku yang akan diadakan dalam jumlah besar, seringkali ada beberapa judul buku yang tidak terpenuhi. Bila hal ini terjadi maka yang perlu diperhatikan apabila perpustakaan melakukan pemesanan lewat toko adalah:

· Tentukan toko buku terlengkap yang ada di kota dimana perpustakaan berada

· Serahkan daftar pesanan buku yang telah dibuat ke toko buku

· Lakukan pembayaran dan mintalah tanda bukti pembayaran beserta faktur

pembeliannya.

· Untuk buku yang tidak dapat dibeli di toko tersebut perlu dicarikan pada toko

buku lain.

3. Pemesanana melalui penerbit

Pemesanan buku secara langsung kepada penerbit dilakukan jika judul-judul buku yang dibutuhkan benar-benar dikeluarkan oleh penerbit tersebut. Untuk hal ini dilakukan dengan cara:

· Tentukan penerbit yang memberikan layanan pemesanan buku

· Buat daftar buku yang dipesan dan kelompokkan menurut penerbitnya

· Kirimkan pesanan buku kepada penerbit yang ditunjuk untuk diperiksa ketersediaan buku di toko tersebut serta besarnya harga satuan

· Setelah daftar harga diterima, periksalah dana yang tersedia

· Lakukan pembayaran langsung atau melalui bank

· Kirimkan ke penerbit bukti pembayaran melalui bank dengan surat pengantar dan proforma invoice

· Fotokopi bukti pembayaran melalui bank harus disimpan

4. Perolehan Melalui Tukar Menukar

Tukar menukar merupakan aspek dari kegiatan penyiangan (weeding) buku di perpustakaan. Bahan pustaka yang diperoleh melalui tukar menukar mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan koleksi bahan pustaka, karena hal ini dapat diperoleh secara cuma-cuma, sepanjang bahan pustaka tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan perpustakaan yang bersangkutan.

Tujuan pertukaran adalah untuk memperoleh buku-buku tertentu yang tidak dapat dibeli di toko buku ataupun tidak tersedia karena alasan lain. Sistem pertukaran memberi jalan bagi perpustakaan untuk membuang buku-buku duplikat dan hadiah yang tidak sesuai. Dibawah ini ada bebrapa cara untuk memperoleh bahan pustaka dengan cara tukar menukar:

a. Perpustakan dengan bahan pustaka/buku lebih (duplikat) yang sudah tidak diperlukan membuat daftar buku tersebut secara alfabetis ataupun klas untuk ditawarkan.

b. Perpustakaan mengirimkan penawaran kepada perpustakaan lain yang diperkirakan memiliki koleksi sesuai dengan bahan pustaka yang ditawarkan, dan telah mempunyai hubungan kerjasama.

c. Perpustakaan yang menerima tawaran tersebut, memilih bahan yang sesuai, selanjutnya memilih buku penukar yang sesuai bobotnya serta menyusun daftar bahan pustaka yang akan ditawarkan sebagai bahan penukar. Kemudian perpustakaan yang telah menerima tanggapan atas penawarannya melakukan penilaian keseimbangan bahan pertukaran tentang subyek dan bobotnya. Bahan pustaka yang dapat dipertukarkan tergantung keadaan, koleksi serta kebutuhan sekolah yang bersangkutan.

5. Perolehan Melalui Hadiah/ Sumbangan

Koleksi bahan pustaka/ buku yang diperoleh dari sumbangan sangat penting untuk memperkaya koleksi perpustakaan. Boleh jadi perpustakaan akan memperoleh keuntungan besar dari koleksi sumbagan yang diterima. Bagi perpustakaan yang mendapat tawaran buku yang akan dihadiahkan oleh instansi lain melalui suatu daftar atau penerbit buku, maka sebelum perpustakaan memutuskan untuk menerima ada beberapa pertimbangan yang dilakukan, misalnya: Apakah koleksi hadiah yang akan diterima subyeknya benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan.

Koleksi bahan pustaka yang dapat dihadiahkan, misalnya:

a. Contoh terbitan dari pengarang dan penerbit.

b. Buku milik perpustakaan lain yang jumlah eksemplarnya lebih.

c. Buku dari donatur seperti organisasi/ Lembaga Perhimpunan Profesi, Kedutaan

negara-negara sahabat.

Koleksi hadiah dapat diperoleh karena atas permintaan maupun tidak atas permintaan:

Hadiah Atas Permintaan

Untuk memperoleh hadiah buku atas permintaan adalah dengan mengirimkan permohonan buku ke instansi/ perpustakaan yang dituju dengan maksud untuk menambah koleksi.

Hadiah Tidak Atas Permintaan

Untuk memperoleh hadiah buku tidak atas permintaan adalah buku-buku yang oleh suatu perpustakaan jumlahnya terlalu banyak maka dikirimkan keperpustakan lain sebagai hadiah/ sumbangan.

INVENTARISASI BAHAN PUSTAKA

Pengertian

Inventarisasi adalah kegiatan pencatatan data bahan pustaka yang diterima, baik dalam bentuk buku, majalah, bentuk mikro dan audio visual kedalam buku inventaris ( buku induk ).

Kegiatan inventaris bertujuan agar perpustakaan dapat mengontrol kepemilikan bahan pustaka, membuat statistik, mengetahui bahan pustaka yang belum dimiliki ataupun yang sudah dimiliki, mengetahui jumlah bahan pustaka yang dimliki dalam waktu tertentu maupun jumlah buku-buku yang hilang.

Langkah awal yang harus dilakukan terhadap bahan pustaka baik yang dipesan maupun tidak dipesan mencakup kegiatan penerimaan dan inventaris. Kegiatan penerimaan meliputi: kegiatan pemeriksaan terhadap bahan pustaka yang diterima, apakah benar-benar telah sesuai dengan surat pengantar, daftar yang dipesan, memeriksa kondisi fisik buku, apakah dalam keadaan baik/ tidak rusak, lengkap atau tidak lengkap.

Tugas dan Wewenang Bagian Inventaris Adalah :

1. Menetapkan jenis dan jumlah buku inventaris yang diperlukan.

2. Menetapkan macam dan ukuran kolom-kolom dalam buku inventaris serta petunjuk untuk mengisinya.

3. Menetapkan dan melaksanakan pencatatan menurut cara yang telah ditentukan.

4. Menetapkan jenis bahan pustaka dalam pemberian tanda kepemilikan perpustakaan ( dengan stempel ) tiap bahan pustaka yang diterima.

Menetapkan Jenis dan Jumlah Inventaris yang diperlukan :

Sebelum kita melaksanakan inventarisasi, lebih dahulu kita ketahui jenis buku induk: buku induk buku, buku induk majalah, buku induk bahan pustaka non buku. Untuk buku induk ada 3 macam:

1) Buku induk pembelian

2) Buku induk hadiah

3) Buku induk pertukaran

Buku Inventaris :

Untuk menentukan macam kolom-kolom induk buku dan petunjuk pengisiannya sebagai berikut:

a) Sediakan buku bergaris ukuran folio, setiap halaman dobel folionya dibuatkan kolom-kolom dengan ukuran tertentu yang disesuaikan.

b) Pencatatan buku kedalam buku induk selalu berdasarkan kronologis, yaitu menurut tanggal penerimaan.

c) Buku induk terbagi dalam kolom-kolom : Tanggal terima, Nomor induk, Pengarang, judul buku, jumlah eksemplar, penerbit , golongan, Bahasa, harga, Asal bahan pustaka, Keterangan.

d) Tiap jilid buku mempunyai satu nomor induk. Dengan demikian buku yang berjilid 3 akan memperoleh 3 nomor induk tiap jilidnya.

e) Tiap tahun buku induk dapat dimulai dengan nomor urut baru, atau dapat dilanjutkan dari tahun ke tahun.

f) Jika buku hilang maka keterangan tersebut dicatat dalam buku induk ( keterangan dalam buku induk dicoret )

Contoh Buku Induk ke 1:

Ada bebrapa hal yang perlu dicatat ke dalam buku induk/di inventarisasi diantaranya:

Kolom 1 : Tanggal terima, kapan buku diperoleh

Kolom 2 : No. Induk Buku,

Kolom 3 : Pengarang, (pengarang utama/pertama)

Kolom 4 : Judul,

Kolom 5 : Jumlah Buku, (eksemplar)

Kolom 6 : Penerbit (kota terbit: nama penerbit, tahun terbit)

Kolom 7 : Golongan atau klasifikasi,

Kolom 8 : Bahasa, dapat pisahkan sesuai dengan bahsa buku tersebut misalnya

buku yang berbahsa (Indonesia, Inggris, asing lain)

Kolom 9 : Asal buku diperolehnya misalnya dari pembelian atau hadiah

Kolom 10 : Keterangan

Contoh Buku Induk ke 2:

Buku lain dapat berupa lembar kerja seperti dibawah,

LEMBAR KERJA

Tgl.Terima

Bahasa

Jml.Eks

ISBN

No.Induk

No.Klas

Jenis:

………….

Tajuk Entri:


Judul:

Cet:……..Edisi:………..


Asal:……………….


Harga:

Penerbit:


SD/SLTP/SLTA/

Umum

…………..

Kolasi:


Notasi/Seri

Catatan………………..

Pengolah:………………….

Tanggal:……………….


Pemberian Tanda Kepemilikan Perpustakaan :

Bagian inventaris harus bisa membedakan jenis-jenis bahan pustaka, misalnya jenis-jenis referens seperti, kamus, ensiklipedi atau buku-buku yang bersifat umum.

Stempel di perpustakaan ada 2 macam :

1. Stempel Kepemilikan : ada 2 bentuk stempel kepemilikan yaitu :

(a) berbentuk logo instansi, untuk dibubuhkan pada setiap halaman tertentu

(b) berbentuk lain, untuk dibubuhkan pada samping-samping buku, samping atas, samping dan samping bawah

2. Stempel Inventaris: stempel ini khusus dibubuhkan pada balik halaman judul dan berisi catatan:

(a) a. Tanggal :………………

(b) b. No. Induk :…………….

(c) c. Asal Perolehan :………

(d) d. No. Klasifikasi :……….

(e) a s/d c diisikan pada saat pencataatan buku induk, ditulis dengan memakai tinta yang tidak mudah luntur, sedang d (No.Klasifikasi diisikan setelah buku diklasifikasi)

KATALOGISASI DESKRIPTIF BAHAN PUSTAKA

A. Pendahuluan
Katalog dalam arti luas adalah daftar suatu barang atau bahan yang disusun secara sistematis untuk tujuan tertentu. Katalog yang dipergunakan dalam perpustakaan pada umumnya terkait dengan buku / bahan pustaka maka dalam proses identifikasi suatu karya dalam bentuk “Deskripsi bibliografi” secara rinci menurut aturan yang telah dibakukan disebut “mengkatalogisasi bahan pustaka”
Aturan pengkatalogan menggunakan pedoman AACR2 (Anglo American Cataloging Rules). AACR2 ini selalu mengalami perkembangan dan penyempurnaan sehingga sampai sekarang buku tersebut merupakan buku edisi revisi yang ke 2. Sedangkan yang dimaksud katalogisasi deskriptif adalah kegiatan mencatat identitas setiap bahan pustaka yang diperlukan untuk dapat memberikan gambaran umum tentang ciri-ciri tertentu dalam bahan pustaka tersebut.

B. Bentuk Fisik Katalog

Ada beberapa bentuk fisik katalog mulai dari yang sederhana sampai ke bentuk modern diantaranya: katalog lembaran, katalog kartu, katalog dalam bentuk micro, katalog komputer terpasang. Sampai saat ini yang masih populer dan dipakai di perpustakaan dilingkungan sekolah adalah katalog kartu sedangkan yang dipakai di Perguruan Tinggi memakai katalog komputer terpasang (Online Computer Catalogue).

C. Aturan Umum Deskripsi Katalog Menurut AACR2

1. Sumber Informasi

Informasi untuk mendiskripsi bahan pustaka diambil dari sumber bahan pustaka itu sendiri, yang dapat dimulai pada halaman judul, balik halaman judul (verso), halaman awal, halam belakang. Bagian lain juga merupakan bahan informasi, baca di bagian kata pengantar, teks, kulit buku, punggung buku dan sumber lain dari luar publikasi, misalnya katalog dalam terbitan (KDT).

2. Organisasi deskripsi

Deskripsi katalog pada dasarnya terdiri dari 8 daerah yaitu:

(1) Daerah Judul dan Penanggung Jawab

(2) Daerah Edisi

(3) Daerah Materi Data Khusus

(4) Daerah Publikasi (impresium)

(5) Daerah Deskripsi Fisik (kolasi)

(6) Daerah Seri

(7) Daerah Catatan

(8) Daerah Nomor Standar buku (ISBN)

3. Tanda Baca

Tanda baca digunakan untuk membedakan tiap-tiap daerah dan setiap keterangan bibliografis yaitu:

Daerah Judul / Keterangan Penanggung Jawab

Judul Pokok

= Judul paralel

: Judul lain atau informasi judul lain (anak judul)

/ Keterangan pengarang (penanggung jawab)

, Keterangan pengarang kedua, ketiga (yang sederajad)

; Keterangan penanggung jawab kedua, ketiga yang tidak sederajat

seperti, editor, ilustrator dan sebagainya.

Daerah Edisi

. -- Keterangan edisi dan cetakan

. -- Keterangan cetakan

Daerah Keterangan Publikasi (impresium)

. – Tempat penerbit (nama kota)

: Nama penerbit

, Tahun terbit

Daerah Deskripsi Fisik (kolasi)

Jumlah halaman angka romawi

, Jumlah halaman angka arab

: Keterangan ilustrasi (gambar, grafik, peta, dll.)

; Dimensi / ukuran tinggi buku dalam cm.

Daerah Seri

. -- Keterangan seri

: Keterangan sub seri

; Penomoran dalam seri/sub seri

Daerah Catatan

Catatan ditulis pada paragraf baru, informasi yang ditulis adalah data penting yang berhubungan dengan:

a. Judul , misalnya:

judul asli ……

Terjemahan dari :……

b. Kepengarangan, misalnya :

naskah asli oleh ……..

c. Edisi, misalnya :

edisi revisi pertama tahun ………

edisi revisi kedua tahun ………..

diterbitkan dalam edisi khusus

Daerah Nomor Standard (ISBN)

Nomor standard buku secara internasional ditulis di bawah catatan

Misalnya :

ISBN 0-13-072090-9

ISBN 0-13-960849-4

ISBN 04-01-105-1

D. Spesifikasi Dari Unsur-Unsur Pada Deskripsi

1. Pernyataan Judul

Tulislah judul pokok persis seperti yang tercantum pada sumber informasi utama biasanya pada halaman judul, bukan pada kavernya kecuali huruf besar dan tanda bacanya harus ditulis berdasarkan aturan pengkatalogan.

Pernyataan judul terdiri dari:

a. Judul Pokok

b. Judul Pokok : ditambah informasi judul lain (anak judul)

c. Judul Pokok = disertai judul parallel

Contoh :

Judul Pokok

Mahir Berbahasa Indonesia

Judul Pokok Informasi Judul lain (anak Judul)

Mahir Berbahasa Indonesia : untuk SD kelas 6

Judul Pokok Info. Judul lain info. judul lain

Mahir Berbahasa Indonesia : unuk SD kelas 6 : sesuai dengan kurikulum 1994

Judul Pokok Judul Paralel

KTT X Gerakan Non Blok = Enth Conference of Heads

of State or Government of Non Aligned Countries

2. Pernyataan Penanggung Jawab

Penanggung jawab, yaitu penulis buku atau pengarang, yang terkait dengan musik adalah kompuser, Fotografer yang terkait dengan foto, sedangkan kartografer terkait dengan peta, dan sebagainya. penangung jawab juga bisa berbentuk badan korporasi, seperti : Lembaga pemerintahan, nama organisasi ,dsb.

Contoh:

a) Buku dengan satu pengarang, dua pengarang, tiga pengarang dan untuk pengarang lebih dari tiga pengarang pertama yang dipakai kemudian diganti dengan kawan-kawan (dkk) atau (et al).

Contoh:

Mahir berbahasa Indonesia / oleh Subroto

Mahir berbahasa Indonesia / oleh Subroto, Indra

Jaya Nauman

Mahir berbahasa Indonesia / oleh Subroto, Indra

Jaya Nauman, Sutjipto,

Mahir berbahasa Indonesia / oleh Subroto, dkk

b) Buku dengan satu pengarang dan satu editor

Contoh:

Mahir berbahasa Indonesia / oleh Subroto; editor: Sunarto

c) Buku dengan pengarang badan korporasi

Contoh :

Mahir berbahasa Indonesia/ oleh Departemen Pendidikan Nasional

3. Pernyataan Edisi

Pernyataan edisi ditulis sesuai aturan, misalnya, buku edisi ke 1, 2, 3, 4, dst. Dalam peraturan dapat ditulis seperti:

Edisi 1---ed.1

Edisi 2…ed.2

Edisi 3…ed.3 dst.

Jika buku berbahasa inggris

Edisi 1….1 st.ed.

Edisi 2….2 nd.ed.

Edisi 3….3 rd.ed.

Edisi 4….4 th.ed.
edisi 4 - 10 ditambah th

4. Keterangan Penerbitan

Keterangan penerbit pada umumnya ditulis dalam tiga rangkaian, yaitu : Tempat terbit, nama penerbit dan Tahun terbit. Hal-hal yang perlu diperhatikan apabila ada keterangan penerbitan yang tidak diketahui ; tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit, penulisan pada kartu katalog sebagai berikut:

a). S.l . atau (sine loco) jika tidak diketahui tempat / kota penerbitnya

b). S.n. atau (sine nomain) jika tidak diketahui nama penerbitnya

c). S.a. atau (sine alie) jika tidak diketahui tahun terbitnya

Dalam hal ini istilah dalam katalog boleh memakai istilah sendiri asalkan dalam penggunaanya secara konsisten misalnya : Tkt = tanpa kota terbit, apabila kota terbit tidak diketahui, Tnp = tanpa nama penerbit, apabila nama penerbit tidak diketahui dan Tt.t = Tanpa tahun terbit. Apabila tahun terbit tidak disebutkan

Dalam penggunaan istilah dapat dilihat pada contoh dibawah ini :

Klaten : Intan Pariwara, 2000

S.l : Intan Pariwara, 2000

Klaten : S. n. , 2000

Klaten : Intan Pariwara, S.a

5. Deskripsi Fisik

Deskripsi fisik dapat diketahui pada jumlah halaman romawi, halaman angka arab, keterangan lain pada isi buku misalnya, ilustrasi dan ukuran tinggi buku serta ditambah bahan lain bila disertakan misalnya : disket, kaset, dan sebagainya. Penggunaan dalam katalog dapat dilihat di bawah ini :

xii, 289 hal.: ilus.; 23 cm

xii, 289 hal.: ilus.; 23 cm + disket

6. Pernyataan Seri

Pernyataan seri biasanya ditulis di antara tanda kurung pada informasi buku, misalnya (seri ceritera rakyat), (seri karaoke), (seri matematika), (seri lingkungan hidup) dsb. Untuk penggunaannya ditulis pada paragraf baru

contoh sebagai berikut:

Seri ceritera rakyat

Seri karaoke

Seri matematika dsb.

7. Catatan

Catatan ditulis pada paragraf baru dan informasinya ditulis adalah keterangan penting yang belum/tidak bisa dimasukkan dalam deskripsi utama. Dalam penulisannya seperti contoh dibawah ini:

Komedi dalam dua babak

Terjemahan dari: La Muerte de Artemio Cruz

Disadur dari ceritera 1001 malam

8. Nomor Standar

Nomor standar buku atau ISBN (International Standard Book Number) ditulis dibawah catatan, dalam penulisan pada katalog dapat dilihat di bawah ini :

ISBN 0-904576-17-5 ;ISBN 979-511-659-2 ; ISBN 979-518-364-8

E. Menentukan Tajuk Entri Utama Dan Tajuk Entri Tambahan

1. Karya Perorangan

Karya perorangan terdiri dari, satu pengarang, dua pengarang, tiga pengarang dan lebih dari tiga pengarang. Ada juga karya pengarang campuran yaitu terdiri pengarang asli dan pengarang editor atau ilustrator. Kemudian tulislah nama pengarang yang pertama sebagai tajuk entri utama dan pengarang lain sebagai tajuk entri tambahan.

Didalam penulisan pengarang , kataloger juga perlu memperhatikan nama-nama yang digunakan oleh pengarang, seperti nama keluarga, nama panggilan, gelar bangsawan, nama samaran, gelar keagamaan, dsb.

Tajuk entri utama (TEU) dan tajuk entri tambahan(TET)

Contoh:

The sun also rises / by Ernest Hemingway

TEU : HEMINGWAY, Ernest

The sun also rises/ Sir Edward Burne-Jone , Tennyson, Alfred

TEU : BURNE-JONE, Sir Edward

TET : 1. Tennyson 2. Alfred

Pengantar ilmu perpustakaan / oleh Sulistyo-Basuki

TEU : SULISTYO-BASUKI

Pengantar ilmu perpustakaan / oleh Sulistyo Basuki

TEU : BASUKI, Sulistyo

2. Karya Badan Korporasi

Karya badan korporasi terdiri dari badan pemerintah dan swasta. Pilihlah tajuk untuk nama badan korporasi langsung pada namanya yang paling dikenal, dan gunakan bentuk nama resmi sebagai tajuk untuk badan korporasi dari bentuk yang lain:

Contoh:

Bank Negara Indonesia 1946 Bukan B.N.I 1946

Perpustakaan Nasional RI Bukan Perpusnas RI

Gunakan bahasa yang resmi

Contoh:

Palang Merah Indonesia Bukan Indonesia Red Cross

Badan Tenaga Atom Nasional Bukan National Atomic Energy Centre

Tambahkan “Indonesia” pada pengarang badan korporasi sesuai letak geografisnya dan berlaku untuk badan-badan bawahannya.

Contoh :

Majelis Permusyawaratan Rakyat

INDONESIA. Majelis Permusyawaratan Rakyat

INDONESIA. Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sekretariat Jendral

INDONESIA. Dewan Perwakilan Rakyat

JAWA TENGAH. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I

PEKALONGAN (Kotamadya). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II

F. Penggunaan Nama Pengarang Untuk Tajuk

1. Pengarang dengan menggunakan nama keluarga :

Robert Rudolf Daryanto Tajuk DARYANTO, Robert Rudolf

Mohammad Hatta Tajuk HATTA, Mohammad

H. Sahetappy-Engel Tajuk SAHETAPPY-ENGEL, H

Tan Goan Po Tajuk TAN, Goan Po

Kho Ping Ho Tajuk KHO, Ping Ho

2. Pengarang dengan menggunakan nama panggilan

Dokter O Tajuk DOKTER O

Nyonya Rumah Tajuk NYONYA RUMAH

3. Pengarang dengan menggunakan gelar kebangsawanan

Pangeran Raden Hario Achmad Joyodiningrat

Tajuk JAYADININGRAT, Achmad, Pangeran Raden Hario

Teuku Umar Tajuk UMAR, Teuku

4. Pengarang Wanita dengan mengikutsertakan nama suaminya

Ny. Nani Sudarsono Tajuk SUDARSONO, Nani, Ny (nyonya)

Ny. Yanti Soewondo Suparmono Tajuk SOEWONDO SUPARMONO, Yanti,

Ny (nyonya)

5. Pengarang dengan gelar keagamaan

Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim Tajuk HASYIM, Abdul Wahid, Kiai Haji

Uskup Agung Leo Sukoto Tajuk SUKOTO, Leo, Uskup Agung

G. Pembuatan Kartu Katalog

Beberapa macam pekerjaan dari pekerjaan pokok pada pengolahan bahan pustaka diantaranya adalah : inventarisasi, identivikasi, klasifikasi, katalogisasi, pelabelan dan sebagainya

Pengkatalogan salah satu pekerjaan pengolahan bahan pustaka yang memerlukan pekerjaan tersendiri karena memerlukan ketelitian . Bahan pustaka yang perlu dibuatkan kartu katalog untuk koleksi perpustakaan diantaranya:

- buku teks maupun buku referensi

- penerbitan pemerintah

- penerbitan berkala

- skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian atau karya ilmiah lain

- peta, atlas

- media non cetak , dsb.

Pengetikan katalog sebagian besar menggunakan atau menganut pola/format yang digunakan perpustakaan di negara-negara benua Eropa yaitu negara Inggris dan sekitarnya dan Amerika Serikat serta Kanada , Sedangkan petunjuk teknisnya menganut sistem AACR2 atau peraturan-peraturan katalogisasi yang berlaku di benua Eropa dan Amerika serta dianut oleh perpustakaan yang berada di Negara berkembang yaitu di kawasan Asia.

Adapun pola atau format yang digunakan mempunyai kesamaan seperti :

- ukuran kertas katalo

- tata pengetikan

- data bibliografi

- macam kartu katalog

Dengan menganut kesamaan sistem tersebut perpustakaan di Indonesia dapat berharap maupun bekerja sama secara internasional dengan perpustakaan di luar negeri.

H. Pengetikan Kartu Katalog

Persiapan

1. Petunjuk persiapan

a. Sebelum dibuatkan kartu katalog terlebih dahulu buku harus sudah selesai diidentifikasi, diklasifikasi dan diiventarisasi.

b. Untuk membuat kartu katalog perlu disiapkan peralatan seperti:

- blangko T-slip atau formulis khusus untuk membuat T-slip

- alat penggaris

- kartu katalog ukuran ( 7,5X12,5 ) cm

- mesin ketik

- komputer

2. Petunjuk membuat T-slip

a. T-slip merupakan catatan keterangan mengenai buku yang akan diketik pada kartu katalog

b. Hal-hal yang dituangkan pada T-slip seperti:

- nomor penempatan (call number)

- nama pengarang

- judul buku

- penerbit (impresium)

- deskripsi fisik (kolasi)

- anotasi

- lacak/jejakan/tracing

c. T.slip selain sebagai data pembuatan kartu katalog juga sebagai alat pengecekan (cheklist) sebelum mengklasifikasi untuk mencegah perbedaan nomor klasifikasi buku yang sama pengarangnya maupun judulnya.

d. Salah satu contoh dibawah ini T-slip untuk buku :

Nomor penempatan : 539/HOL/f

Pengarang : David Holliday, Robert Resnick;

Alih bahasa: Pantur Silaban

Judul : Fisika Modern= Physics, edisi ke 3

Penerbit : Jakarta : Erlangga, 1990.

Deskripsi fisik : x, 243 p.: il.; 24 cm.

Notasi : -

Jejakan : I. Resnick, Robert II. Silaban, Pantur (alih bahasa)

1. FISIKA MODERN 2. MODERN PHYSICS

e. Keterangan

1). Nomor penempatan terdiri dari nomor klasifikasi bahan pustaka dan tiga huruf dari pengarang utama/pertama dan satu huruf pertama dari judul buku

2) Nama pengarang terdiri dari nama orang dan badan korporasi

3) Judul terdiri dari judul utama/pokok tulislah kalau ada keterangan judul

lain seperti judul paralel, anak judul dll

4). Penerbit terdiri dari keterangan mengenai kota terbit, nama penerbit dan tahun terbit serta informasi lain yang berkaitan

5). Deskripsi fisik terdiri dari keterangan berapa jumlah halaman angka romawi maupun angka arab, kemudian keterangan ilustrasi terdiri dari keterangan gambar-gambar, grafik dan lain sebagainya yang terakhir ukuran tinggi buku

6). Notasi terdiri dari keterangan yang bisa dicantumklan kalau ada misalnya seri buku, judul asli dari buku yang bersangkutan, dan sebagainya.

7). Jejakan terdiri dari keterangan lebih lanjut mengenai buku yang bersangkutan yang biasa ditulis tentang subyek, tajuk tambahan terdiri dari pengarang ke 2, 3, penerjemah dan sebagainya.

f. Pembuatan kartu katalog

Penulisan Kartu Katalog

Deskripsi

Nomor klasifikasi : 539

Pengarang : David Holliday , Robert Resnick

Alih Bahasa : Pantur Silaban

Judul : Fisika Modern = Physics

Edisi : Edisi 3

Penerbit (impresium) : Jakarta : Erlangga, 1990

Deskripsi Fisik (kolasi) : x, 243 p.: il.; 24 cm.

Notasi : -

Lacak/Tracing/Jejakan : I. Resnick, Robert

II. Silaban, Pantur (alih Bahasa)

III. Judul

1. FISIKA MODERN

2. MODERN PHYSICS

KARTU KATALOG SHELFLIST

-

539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa)

. – ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

I. Resnick, Robert

II. Silaban, Pantur (alih bahasa)

1. FISIKA MODERN 2. MODERN PHYSICS

3. Judul

PRINSIP-PRINSIP KLASIFIKASI BAHAN PUSTAKA

A. Pengertian

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya orang sering melakukan kegiatan klasifikasi, misalnya pedagang buah-buahan yang mengelompokkan dagangannya menurut jenis buah-buahan, seperti jeruk, mangga, apel atau durian yang masing-masing dikelompokkan menurut jenis buah-buahan. Begitu juga dengan pedagang pakaian yang menyusun dagangannya menurut kelompok atau jenis pemakainya, misalnya pakaian anak-anak, pakaian remaja, pakaian pria, pakaian wanita, pakaian keagamaan, dan sebagainya. Di rumah, seperti di dapur, ibu-ibu menata alat-alat dapur sedemikian rupa, misalnya sendok, garpu, piring, panci dan lain-lain ditata terpisah satu dengan yang lain. Di sekolah, peserta didik dibagi dalam beberapa kelas, misalnya kelas I, kelas II, kelas III dan seterusnya. Semua kegiatan tersebut termasuk kegiatan pengklasifikasian (klasifikasi). Klasifikasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mengelompokkan suatu benda/hal yang sama dan sekaligus memisahkan benda/hal tersebut dari yang tidak sama dengan tujuan:

· Memudahkan pencarian

· Memudahkan penyimpanan

· Supaya indah dipandang mata

Bahan pustaka dapat dikelompokkan (diklasifikasi) menurut ciri-ciri fisiknya, seperti; bentuk buku, majalah, surat kabar, laporan, warna sampul, tebal-tipis, ukuran tinggi, pengarang, proyek, nomor induk, tahun terima, dsb. yang lazim disebut “klasifikasi artifisial”. Akan tetapi di suatu perpustakaan pada umumnya dilakukan klasifikasi berdasarkan ciri-ciri isi (subjek) yang lazim disebut klasifikasi fundamental. Disamping itu, kebanyakan perpustakaan menyusun koleksinya di rak dengan menganut sistem penempatan relatif (relative location); koleksi disusun berdasarkan notasi (nomor klasfikasi), mulai dari kelas 000, 100, 200 dst.nya dari arah kiri ke kanan. Susunan tersebut bersifat relatif, artinya susunan itu secara luwes akan bergeser ke kiri atau ke kanan bila ada koleksi baru yang diterima perpustakaan.

Untuk dapat mewujudkan cara penyimpanan dan penyususnan koleksi perpustakaan, para pakar ilmu perpustakaan (pustakawan) telah menciptakan berbagai bagan klasifikasi. Paling tidak saat ini terdapat 3 (tiga) bagan klasifikasi yang banyak dipakai, yaitu

Þ Dewey Decimal Classification (DDC, 1876)

Þ Universal Decimal Classification (UDC, 1899)

Þ Library of Congress Classification (LCC, 1899)

Adapun ciri-ciri bagan klasifikasi yang baik antara lain:

· Universal (universal), mencakup semua ilmu

· Mutaakhir (up to date), selalu diperbarui dan direvisi

· Mudah (user friendly) cara menggunakannya

· Murah (economics) harganya

· Luwes (flexible), dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

· Banyak digunakan (well-known) yang akan memudahkan jaringan

B. Tujuan

Uraian di atas telah menjelaskan alasan dan keuntungan klasifikasi, namun secara khusus tujuan klasifikasi di suatu perpustakaan adalah:

· Memudahkan pengolahan

· Memudahkan penyimpanan

· Memudahkan mencari kembali

· Menginformasikan subjek-subjek yang dimiliki

· Memperlihatkan keseimbangan antar subjek

· Menghemat tempat penyimpanan

· Memberikan gambaran umum cakupan ilmu pengetahuan

C. Pedoman Praktis Analisis

Untuk melakukan analisis subjek dapat dilakukan melalui:

· Judul, seringkali melalui judul saja suatu dokumen sudah dapat ditentukan subjeknya.

· Daftar isi, adakalanya dengan melihat daftar isi suatu dokumen sudah diketahui subjeknya.

· Daftar bacaan atau bibliografi yang digunakan oleh pengarang untuk menyusun karya tersebut.

· Membaca pendahuluan dari bahan pustaka tersebut.

· Membaca sebagian atau keseluruhan isi karya tersebut.

· Sarana bibliografi atau sumber rujukan, seperti: bibliografi, katalog, tinjauan buku.

· Menanyakan pada pakar, yaitu orang yang dianggap ahli dalam subjek tsb.

D. Prinsip Klasifikasi

Pada prinsipnya mengklasifikasi bahan pustaka harus sesuai dengan keinginan pengarangnya. Namun demikian untuk orang lain diberikan beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman dalam penentuan notasi, yaitu:

· Kelaskan suatu karya, pertama menurut subjeknya kemudian diikuti bentuk penyajiannya kalau perlu.

Contoh:

Kamus istilah koperasi à klas 334.03

334 = Koperasi (sebagai subjek)

-03 = Kamus (bentuk penyajiannya)

· Kelaskan pada suatu subjek yang lebih khusus (spesifik).

Contoh:

Mengenal matahari kita à klas 523.7 pada “Matahari” (khusus) tidak pada klas 520 à Astronomi (umum)

· Apabila suatu dokumen memiliki 2 (dua) subjek atau lebih, kelaskan pada subjek yang paling dominan.

Contoh:

Dasar-dasar fisika dan kimia,

pilih antara klas 530 atau 540, ambil yang dominan

· Apabila subjek spesifik terlalu banyak, maka pilih subjek umumnya.

Contoh:

Mengenal fauna Indonesia, di dalamnya terdapat berbagai jenis

binatang, maka kelompokkan pada “binatang atau zoologi” tidak

pada masing-masing binatang tersebut; golongkan dalam. klas 590 atau 636

· Apabila subjek dokumen mempengaruhi subjek yang lain, maka pilih subjek yang dipengaruhi.

Contoh:

Pengaruh agama Hindu pada agama Islam, masukkan dalam

Islam klas 2X0 atau 297 bukan pada Hindu klas 294.5

· Apabila salah satu subjek digunakan sebagai alat membahas subjek lain, maka pilihlah subjek yang menggunakan alat tersebut.

Contoh:

Pelajaran bahasa Inggris melalui televisi. Masukkan dalam klas

bahasa Inggris klas 420 bukan televisi klas 384.5

· Apabila suatu karya memiliki subjek yang disajikan untuk kepentingan pemakai bidang tertentu (kelompok tertentu) maka kelaskan pada subjek yang disajikan.

Contoh:

Kursus bahasa Arab untuk jamaah haji. Masukkan dalam klas

bahasa Arab klas 492.7 bukan haji klas 2X4.1 atau 297.1

E. Sejarah Singkat Klasifikasi DDC (Dewey Decimal Classification)

Klasifikasi Persepuluhan Dewey (selanjutnya disingkat DDC) adalah hasil karya Melvil Dewey (1851-1931), seorang pustakawan di Ambers College, Massachusset Amerika Serikat. Pada tahun 1876 ia menerbitkan DDC edisi pertama dengan judul “A Classification and Subject index for cataloging and arranging the book and pamphlet of a library”. Terbitan pertama tersebut hanya terdiri dari 42 halaman yang berisi 12 halaman pendahuluan, 12 halaman bagan dan 18 halaman indeks. DDC terus menerus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Pada tahun 2003 diterbitkan DDC edisi ke-22. Selain edisi lengkap, DDC juga tersedia dalam bentuk “edisi ringkas.” Edisi ringkas dimaksudkan untuk digunakan pada perpustakaan yang memiliki koleksi kurang dari 20.000 judul.

Kelestarian DDC tetap terus terjaga karena ada sebuah lembaga yang mengawasinya yaitu: The Lake Placed Education Foundation and The Library of Congress di Amerika Serikat. Kemutakhirannya dilakukan dengan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Minimal setiap sepuluh tahun diterbitkan DDC dengan edisi revisi terbarunya. Selanjutnya untuk komunikasi dengan pengguna, diterbitkanlah warta (newsletter) dengan judul DC& (Decimal Classification Added, Notes and Decisions).

Untuk menampung keluhan terhadap DDC yang cenderung condong ke Amerika, Kristiani, Bahasa Inggris, Sastra Amerika, dsb.nya, DDC menyediakan pilihan/opsi (optional) yang dapat dipertimbangkan oleh pengguna DDC. Di Indonesia misalnya, klas 2X0 – Islam (pada edisi ke-21 dan 22 dengan notasi 297), 410 (Bahasa Indonesia) dan 810 (Sastra Indonesia) adalah contoh memanfaatkan opsi yang diberikan DDC.

Saat ini DDC telah digunakan lebih dari 135 negara dan diterjemahkan kedalam lebih dari 30 bahasa. Di Indonesia penggunaan DDC untuk klasifikasi sangat populer, hampir semua perpustakaan di Indonesia menggunakan DDC. DDC edisi ringkas telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Perpustakan Nasional RI. Disamping itu beberapa pustakawan lain mengadakan terjemahan dan melakukan adaptasi untuk subjek-subjek tertentu. Uraian dalam makalah ini didasarkan pada Terjemahan Ringkas Klasifikasi Desimal Dewey & Indeks Relatif yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI pada tahun 1993.

Secara umum DDC terdiri dari 3 (tiga) komponen utama yaitu:

· Bagan (schedules)

· Indeks relatif (relatives index)

· Tabel-tabel (tables)

1. Bagan (Schedules)

Bagan merupakan batang tubuh DDC. Didalam bagan ini semua ilmu disusun sedemikian rupa dan diberi kode angka yang disebut dengan notasi. Notasi dalam bentuk angka terdiri dari tiga angka. Apabila terdapat 4 (empat) angka atau lebih, maka antara angka ke-tiga dan ke-empat diberi tanda titik (.) seperti pada contoh 332.1 (Bank dan perbankan).

Dengan prinsip desimal, DDC memberikan tiga ringkasan yang terdiri dari :

· 10 klas utama

· 100 divisi

· 1000 seksi dari bagan utama

Bila diinginkan masing-masing seksi dibagi pula secara desimal pada beberapa sub-seksi.

a. Klas Utama (10 ringkasan pertama), yaitu:

000 karya umum

100 Filsafat & Psikologi

200 Agama

300 Ilmu-ilmu sosial

400 Bahasa

500 Ilmu-ilmu murni dan matematika

600 Ilmu-ilmu terapan (Teknologi)

700 Kesenian, hiburan, olahraga

800 Kesusastraan

900 Geografi, Biografi dan Sejarah

b. Divisi (100 ringkasan kedua)

Setiap kelas utama dibagi secara desimal menjadi sub klas yang disebut “divisi” (100 ringkasan kedua)

Contoh: Misalnya diambil dari klas 300 (Ilmu-ilmu sosial):

300 Ilmu-ilmu sosial

310 Statistik umum

320 Ilmu politik

330 Ilmu ekonomi

340 Ilmu hukum

350 Administrasi negara (Pemerintahan), Ilmu militer

360 Layanan sosial, Asosiasi

370 Pendidikan

380 Perdagangan, Komunikasi dan Pengangkutan

390 Adat istiadat, Etiket dan Foklore

c. Seksi (1000 ringkasan ketiga)

Kemudian divisi ini dibagi menjadi 10 sub-divisi yang disebut ‘seksi’ (1000 ringkasan ke tiga)

Contoh : Misalnya diambil divisi klas 370 (Pendidikan)

370 Pendidikan

371 Sekolah

372 Pendidikan dasar

373 Pendidikan lanjutan

374 Pendidikan orang dewasa

375 Kurikulum

376 tidak digunakan lagi [unassigned]

377 tidak digunakan lagi [unassigned]

378 Pendidikan tinggi

379 Pendidikan dan negara

Selanjutnya notasi tersebut dapat dibagi lagi secara desimal apabila dikehendaki.

Contoh : Misalnya diambil seksi klas 371 (Sekolah)

371 Sekolah

371.1 Pengajaran dan para pengajar

371.2 Administrasi dan manajemen sekolah

371.3 Metode mengajar dan belajar

371.4 Bimbingan dan penyuluhan

371.5 Disiplin sekolah

371.6 Sarana fisik (seperti; gedung, peralatan, laboratorium)

371.7 Kesehatan dan keamanan sekolah

371.8 Siswa

371.9 Pendidikan khusus atau Sekolah luar biasa

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa semakin khusus suatu subjek maka semakin panjang notasinya. (ringkasan klas utama dan divisi terlampir)

2. Indeks Relatif

Untuk membantu mencari notasi suatu subjek dalam klasifikasi, DDC menyediakan “Indeks relatif”. Pada indeks relatif ini terdapat sejumlah istilah yang disusun berabjad. Istilah-istilah tersebut mengacu ke notasi yanga ada dalam bagan. Pada indeks ini terdaftar juga sinonim untuk suatu istilah dan juga hubungan-hubungan dengan subjek lainnya. Namun demikian kita tidak boleh menentukan klasifikasi berdasarkan indeks saja. Setelah notasi ditemukan dalam indeks, maka harus diperiksa dalam bagan atau tabel.

Contoh:

Untuk subjek “Pendidikan” terdapat sebagai berikut:

Pendidikan 370

Adminitsrasi 371.2

Departemen 353.8

Etika 370.1

Hukum 344.07

Subsidi 379

Dengan demikian untuk “pendidikan” terdapat sejumlah notasi yang dapat mewakili subjek tsb dan tergantung pada aspek yang dibahas. Apabila pendidikan secara umum notasinya klas 370, maka yang terkait dengan subsidi adalah klas 379, pemerintahan klas 353.8 dan undang-undang pada klas 344.07.

Disamping melalui indeks relatif, pengguna DDC dapat pula mencari notasi secara langsung dan bertahap, mengikuti tahap ringkasan yang ada. Pertama-tama tentukan klas utama subjek tersebut. (lihat ringkasan pertama). Kemudian dari klas utama yang dipilih tentukan divisinya (lihat ringkasan kedua). Apabila divisinya telah ditemukan selanjutnya tentukan seksi (lihat ringkasan ketiga). Jika tidak tersedia ringkasan ketiga, maka langsung lihat ke dalam bagan.

Contoh: “Penyakit Malaria”

à Klas 600 à Divisi 610 à Seksi 616 à Sub-seksi 616.9, dstnya.

Indeks relatif mengacu kepada notasi yang terdapat pada bagan atau pada notasi yang terdapat dalam tabel yang diberi kode T1 atau T2.

Contoh : Kamus Koperasi Indonesia pada klas à 334.03598

Indonesia T2 -598 = lihat dalam Tabel 2

Kamus T1 -03 = lihat dalam Tabel 1

Koperasi 334 = lihat dalam Bagan

3. Tabel-Tabel

Untuk memperluas dan mengkhususkan suatu klasifikasi bahan pustaka, dalam DDC terdapat notasi “tabel-tabel” yang dapat ditambahkan pada notasi dalam bagan. Pada DDC terdapat 7 (tujuha) tabel yaitu:

· Tabel Subdivisi Standar (T1)

· Tabel Wilayah (T2)

· Tabel Bentuk Sastra (T3)

· Tabel Bentuk Bahasa (T4)

· Tabel Ras, Suku, Etnik dan Kebangsaan (T5)

· Tabel Bahasa (T6)

· Tabel Orang / profesi (T7) à ini tidak dimuat dalam edisi terjemahan. (pada edisi 22 (2003) Tabel 7 tidak lagi dimunculkan secara tersendiri)

Notasi yang terdapat pada masing-masing tabel tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu ditambahkan pada notasi yang terdapat dalam bagan.

Cara penambahan notasi tabel dengan notasi bagan adalah sebagai berikut:

a). Tabel Subdivisi Standar (T1)

Tabel 1 (T1) bertujuan untuk menjelaskan bentuk suatu karya, misalnya bentuk kamus, penelitian, organisasi, sejarah, dsb. Cara penggunaan T1 adalah sebagai berikut :

· Tidak ada perintah

Apabila tidak ada perintah/contoh dalam bagan, maka notasi bagan dapat ditambah langsung dengan notasi T1.

Contoh: Penelitian Sekolah Dasar pada klas à 372. 072

372 = Sekolah Dasar (lihat bagan)

-072 = Penelitian (T1)

Penulisan subyeknya = Sekolah Dasar – Penelitian

· Sudah terdaftar

Dalam kasus tertentu, notasi subdivisi standar sudah tercantum dan bergabung pada bagan.

Contoh: Kamus filsafat pada klas à 103 - (terdaftar)

Penulisan subyeknya = Filsafat - Kamus

· Perintah menggunakan lebih dari satu nol

Untuk menghindari duplikasi makna notasi, dalam DDC adakalanya diharuskan penggandaan nol untuk penambahan T1

Contoh : Majalah perternakan pada klas à 636.005

636 = Perternakan (bagan)

-05 = Penerbitan berseri/majalah (T1)

Penulisan subyeknya = Peternakan – Majalah

· Dilarang menggunakan

Adakalanya T1 tidak boleh ditambahkan pada notasi bagan.

Contoh : Filsafat kurikulum tetap pada klas è 375

bukan klas 375.01 (karena pada klas 375 dilarang menggunakan subdivisi standar (T1)

Catatan:

Dalam edisi lengkap tidak ada larangan menggunakan T1, tetapi terdapat instruksi menggunakan tiga nol (000) atau empat nol (0000) antara notasi bagan dengan notasi T1

b). Tabel Subdivisi Wilayah (T2)

Tabel 2 (T2) disediakan DDC untuk menambahkan aspek tempat pada subjek tertentu. Misalnya “SMU di Aceh” mendapat notasi 373.5981 yang terdiri dari notasi 373 (bagan) = SMU, notasi -5981 adalah wilayah Sumatera (T2) termasuk juga Aceh. Lengkapnya cara penggunaan T2 adalah sebagai berikut:

· Tidak ada instruksi penggunaan T2

Apabila pada bagan tak ada perintah khusus mengenai penggunaan T2 ini, maka sebelum menggunakan tabel 2 harus diawali dengan –09 sebagai interposisi wilayah dari T1.

Rumus: à Notasi Bagan + -09 + Notasi T2

Contoh : Perkembangan bank di Bali à 332.109 598 6

332.1 = Bank dan perbankan (bagan)

--09 = Interposisi wilayah (T1)

--5986 = Bali (T2)

Penulisan subyeknya = Bank dan perbankan – Bali

· Ada instruksi langsung penggunaan T2

Apabila terdapat instruksi untuk penambahan notasi T2 langsung pada subjek, maka tidak perlu menggunakan interposisi –09.

Rumus : à Notasi bagan + Notasi T2

Contoh : Pendidikan tinggi di Meksiko à 378.72

378 = Pendidikan tinggi (bagan)

--72 = Mesksiko (T2) (tanpa –09)

Penulisan subyeknya = Pendidikan Tinggi – Meksiko

c). Tabel Subdivisi Kesusasteraan (T3)

Notasi T3 ini hanya digunakan untuk klas 800 (kesusasteraan) dan dapat ditambahkan langsung. Rumus : à Notasi bagan + Notasi T3

Contoh : Fiksi Belanda à 839.33

839.3 = Kesusasteraan Belanda

--3 = Fiksi (T3)

Penulisan subyeknya = Fiksi Belanda

Salah asuhan (fiksi Indonesia) à 813

Penulisan subyeknya = Fiksi Indonesia

d). Tabel Subdivisi Bentuk Bahasa (T4)

Tabel T4 ini hanya digunakan untuk klas 400 (bahasa) dan ditambahkan langsung. Rumus : à Notasi bagan + Notasi T4

Contoh : Tata bahasa Arab à 492.75

492.7 = Kesusasteraan Arab (bagan)

--5 = Tata Bahasa (T4)

Penulisan subyeknya = Kesusateraan Arab – tata bahasa

Pengantar tata bahasa Indonesia à 415

e). Tabel Subdivisi Ras, Etnik dan Bangsa (T5)

Notasi T5 ini digunakan untuk subjek yang dikaitkan dengan aspek ras, etnik tertentu. dsbnya. Apabila tidak ada perintah dalam bagan untuk menggunakannya secara langsung, maka sebelum menggunakan notasi T5 harus diawali dengan interposisi - 089 (T1)

Rumus : à Notasi bagan + --089 + Notasi T5

Contoh : Masakan Cina = 641.5.089 951

641.5 = Masakan (Bagan)

--089 = Aspek Ras (T1)

--951 = Orang Cina (T5)

Penulisan subyeknya = Masakan Cina

Musik rakyat Madura = 781.60891

781.6 = Musik rakyat (bagan)

--089 = Aspek Ras (T1)

--1 = Orang Madura, Indonesia (T5)

Penulisan subyeknya = Musik Tradisional ( Madura)

f). Tabel Bahasa (T6)

Tabel 6 (T6) disediakan untuk menambah jenis bahasa tertentu pada subjek tertentu. Penggunaannya sangat terbatas dan digunakan hanya kalau ada instruksi.

Rumus : à Notasi bagan + Notasi T6 atau

Notasi bagan + Notasi T4 + Notasi T6

Contoh: Terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Prancis à 2X1. 241

2X1.2 = Terjemahan Al Qur’an (bagan)

--41 = Bahasa Perancis (T6)

Penulisan subyeknya = Al Qur’an - Terjemah – Prancis

Kamus Inggris - Jepang à 495.6321

495.6 = Bahasa Jepang (bagan)

--3 = Kamus (T4)

--21 = Bahasa Inggris (T6)

Penulisan subyeknya = Bahasa Inggris – Kamus - Jepang

g). Prinsip “Tambahkan Pada …” (add to.. )

Pada DDC ada kalanya perluasan notasi tidak diambil dari notasi tabel (T1 - T7), tetapi diperluas dengan mengambil sebagian atau seluruh dari notasi bagan lainnya.

Pada DDC edisi ringkas hal ini tidak banyak ditemukan, tetapi pada edisi lengkap sering ditemukan. Cara ini sering disebut dengan istilah ”tambahkan pada..” atau “bagi seperti...”. Sebagai contoh subjek “botani” dan “zoologi” dapat dibagi seperti pembagian yang dilakukan untuk subjek “biologi” à klas 574.

Rumus à Notasi bagan + Notasi bagan sebagian atau seluruhnya

Contoh : Ekologi tumbuh-tumbuhan à 581.5

581 = Botani/tumbuh-tumbuhan (bagan)

5 = Ekologi, dari 574.5 (bagan)

Fisiologi hewan à 591.1

591 = Zoologi (bagan)

1 = Fisiologi dari 574.1 (bagan)

Bibliografi pendidikan à Klas 016.37

Analisis : 016 = Bibliografi (bagan)

37 = Pendidikan dari 370 (bagan seluruhnya). Angka 0 di

belakang 37 dihilangkan karena setelah 3 angka tidak

ada angka nol (0) paling akhir notasi

4. Kebijakan Klasifikasi

a). Dalam penggunaan DDC pengkatalog dapat mengambil kebijakan sesuai dengan kebutuhan dan tenaga yang dimiliki perpustakaan. Pustakawan dapat membuat kebijakan, misalnya:

¨ Hanya menggunakan bagan, tanpa tabel sama sekali

¨ Bagan yang digunakan hanya pada Klas utama, Divisi atau Seksi saja,

dstnya.

¨ Untuk klas tertentu sangat rinci sampai ke sub-seksi, sedangkan subjek

yang tidak banyak koleksinya pada Klas utama atau Divisi saja.

¨ Menggunakan Bagan dan Tabel secara terpilih

¨ Menggunakan Bagan dan Tabel dan mengikuti Prinsip perintah

tambahkan.

b). Apabila memiliki DDC edisi terbaru, jika memungkinkan sebaiknya dilakukan “klasifikasi ulang” (reclassification). Jika tidak mungkin hanya koleksi baru dengan DDC baru, dan dibuatkan acuan atau penunjukan kalau ada notasi yang mengalami perubahan atau penambahan.

c). Terhadap opsi (pilihan) yang terdapat dalam edisi bahasa Indonesia, pustakawan dapat mempertimbangkan untuk mengikutinya atau tidak. Meskipun Perpustakan Nasional RI adalah penggagas notasi Islam 2X0, tetapi dalam pengolahan di Perpustakaan Nasional tetap menggunakan Klas 297 untuk agama Islam.

d). Khusus untuk buku-buku mengenai “Biografi” notasi 920 dapat diganti dengan huruf B dan mengenai “Fiksi” (novel) dengan huruf F.

e). Tanda baca kurung siku (-- [ ] --) dalam DDC berarti notasi yang ada didalamnya sudah tidak digunakan lagi, contoh [778.1]. Sedangkan tanda baca kurung biasa (-- ( ) --) sebaiknya tidak digunakan, contoh (-016) pada T1.

f). Apabila dalam melakukan analisis subjek atau mementukan notasi terdapat keragu-raguan, sebaiknya dimusyawarahkan antar pustakawan untuk menentukan subjek atau notasi bahan pustaka tsb.

g). Kesalahan dalam analisis subjek akan berakibat kesalahan dalam menentukan notasi. Selanjutnya akan terjadi kesalahan dalam penyimpanan di perpustakaan. Untuk perpustakaan dengan layanan sistem terbuka (open access) kesalahan tersebut berakibat fatal, pemakai tidak akan menemukan buku yang dicarinya karena salah penempatan koleksinya.


DAFTAR PUSTAKA

Dewey, Melvil. 1996. Dewey Decimal Classification and Relative Index Ed. 22. Dublin:

Online Computer Library Center, Inc.

Gorman, Michael. 1986. AACR2 Ringkasan. Jakarta: Proyek Pengembangan Perpustakaan Jakarta. Pusat Pembinaan Perpustakaan.

Hamakonda, Towa P. 1991. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Yusuf, Pawit M, 2007. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Kencana

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 1995. Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional R.I.

Sumardji,P.1992.Peraturan Teknis Pelaksanaan Pembuatan / Pengetikan Kartu Katalog di Perpustakaan Yogyakarta : Gadjah Mada University Press”.

Saldinah H, Dien. 1987. Katalogisasi Sebuah Pengantar. Jakarta :

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tairas, JNB. 1982. Peraturan Katalogisasi Indonesia: Deskripsi Bibliografi (ISBD),

Penentuan untuk Tajuk Entri. Jakarta : Pusat Pembinaan Perpustakaan,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

.

The Direction of the Joint Shering Commilter for Revision of AACR. 1967. Anglo American Cataloging Rules. American : Library Association, American Library Association Originally Published.

Zen, Zulfikar. 2006. Prinsip Dasar Klasifikasi dan DDC Edisi 22 Tahun 2003.

(Makalah Pada Pelatihan Bimbingan Teknis Klasifikasi). Semarang: Kantor

Perpustakaan Daerah Jawa Tengah

Contoh-Contoh Katalog:

KARTU KATALOG UTAMA




539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa).

– ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

O


KARTU KATALOG PENGARANG KE 2




Resnick, Robert

539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa)

. – ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

O

KARTU KATALOG PENGARANG KE 3

-

Silaban Pantur (alih Bahasa)

539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa)

. – ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

O

KARTU KATALOG JUDUL

Fisika Modern=Physics

539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa)

. – ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

O




KARTU KATALOG SUBYEK Bhs. Ind.

FISIKA MODERN

539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa)

. – ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

O




KARTU KATALOG SUBYEK Bhs. Asing

MODERN PHYSICS

539

HOL HOLLIDAY, David

F Fisika modern=Physics / David Holliday,

Robert Resnick ; Pantur Silaban (alih bahasa)

– ed.3. – Jakarta : Erlangga, 1990

X, 243 p.: il.; 24 cm.

O



Tidak ada komentar:

Librarianship

Loading...

Pengikut

Arsip Blog

Aboutme

Foto Saya
Ungaran City, Semarang Central Java, Indonesia
eko handoyo comes from small city in western-central java, keboemen to be excactly, moved to Semarang city following his job as a librarian at semarang state university (Unnes). Now he manage his own bussines (sambilan) to make his capital more and more...